Bagaimana Mendirikan BMT? – Detikcom

Bisnis Tiket Pesawat Bagaimana Mendirikan BMT?   Detikcom
pulsagram Bagaimana Mendirikan BMT?   Detikcom
JakartaTanya:

Assalamualaikum Wr Wbr

Kami bersama sejumlah rekan bermaksud mendirikan BMT tapi tidak tahu bagaimana harus memulai karena tidak berpengalaman. Mohon penjelasan.

(Sukardi di Jambi, sukardij@telkom.net)

Jawab:

Secara kelembagaan dan hukum, sesungguhnya tidak terlalu sulit mendirikan baitul maal wat tamwil (BMT). Kalau saudara Sukardi akan membuka di daerah pedesaan di Jambi, maka modal awalnya bisa diawali dengan Rp 10 juta, dan dalam enam bulan diangsur untuk bisa menjadi Rp 50 juta. Jika di perkotaan dibutuhkan modal awal sekitar Rp 50 juta. Semakin besar modal tentunya akan lebih baik. Karena biaya pendirian tidaklah murah.

Berdasarkan buku “Pedoman Cara Pembentukan BMT”, yang disusun oleh Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK)-sebuah LSM yang mendapat pengakuan BI dalam kaitan kerjasama pengembangan usaha kecil-disebutkan bahwa anggota pendiri BMT harus terdiri dari 20-44 orang. Nah, modal awal yang dibutuhkan BMT tersebut bisa diperoleh dari patungan para pendiri tersebut. Modal awal yang diperoleh dari patungan para pendiri tersebut. Modal awal yang diperoleh dari para pendiri itu disebut simpanan pokok khusus. Simpanan ini mendapat prioritas atau penghargaan yang lebih dari Sisa Hasil Usaha (SHU). Di samping itu, para pendiri itu juga mendapat porsi SHU lainnya sesuai dengan keterlibatannya dalam usaha-usaha BMT.

Karena itulah dari sekarang, mas Sukardi bisa memulai berbincang dengan rekan, sahabat, para tokoh masyarakat disekitar tempat tinggal anda baik yang formal maupun non formal, mulai menggulirkan wacana pembentukan BMT ini. Setelah bisa mengumpulkan sejumlah yang dibutuhkan, anda bisa menyusun panitia penyiapan pendirian BMT.

Selain menyetor simpanan pokok khusus tadi, sebagai anggota, para pendiri itu juga harus membayar simpanan pokok, simpanan wajib dan kalau ada simpanan sukarela. Dari modal para pendiri inilah dilakukan investasi untuk membiayai pelatihan pengelola, mempersiapkan kantor sederhana dengan peralatannya. Sebelum ada penghasilan yang rutin, biaya opersional sehari-hari tentu harus ditutup dari modal tadi. Selain dari pendiri, modal sebenarnya juga bisa diperoleh dari yayasan, kas masjid, lembaga pengelola ZIS dan sejenisnya.

Bagaimana BMT tersebut memperoleh penghasilan? Tentu saja pengelola BMT harus bisa menyalurkan pembiayaan kepada anggota kelompok usaha sehingga diperoleh keuntungan. Anggota kelompok usaha itu bisa berupa industri rumah tangga, pedagang pasar, pedagang buah, penjual bakso, padagang asongan atau apa saja yang memiliki prospek usaha yang baik. Di sinilah kuncinya, pengelola harus jeli dalam melihat peluang usaha dan pandai membina pengusaha kecil.

Tentu saja dalam memberikan pembiayaan, BMT harus menggunakan skim pembiayaan syariah. Secara umum BMT menggunakan tiga skim pembiayaan, yakni dengan prinsip bagi hasil, prinsip jual beli sewa dan program kebajikan. Pembagian bagi hasil bisa menggunakan skim mudharabah, musyarakah, muzaraah, dan musaqah. Pada mudharabah, BMT sebagai penyandang dana dan pengusaha sebagai pengelola dana , dan yang dibagihasilkan hanya keuntungannya saja(profit sharing). Sedangkan pada musyarakah, BMT maupun pengusaha sama-sama mengeluarkan modal, dan yang dibagihasilkan pendapatannya (loss and profit sharing), dengan porsi tertentu yang telah disepakati. Sedangkan muzara’ah dan musaaqah umumnya berlangsung di bidang pertanian.

Pada pembiayaan dengan prinsip jual beli, BMT membelikan barang kebutuhan nasabah- bisa barang produktif maupun konsumtif- untuk selanjutnya barang tersebut dijual kepada nasabah dengan margin keuntungan tertentu yang disepakati antara BMT dengan nasabah. Nantinya, nasabah akan membayar harga barang itu dengan mengangsur. Skim yang digunakan biasanya murabahah, salam, istishna dan bitsaman ajil.

Sedangkan pembiayaan kebajikan biasanya dikenal dengan nama pembiayaan qardhul hasan. Pembiayaan ini bersifat sosial dan non komersial, dan nasabah hanya mengembalikan pokok pinjamnnya saja. Penggunaan dananya bisa untuk urusan sosial, misalnya biaya pengobatan, sekolah dan pembiayan sejenisnya. Bisa juga dananya digunakan untuk kegiatan produktif, seperti modal dagang kecil-kecilan, seperti jual sayur keliling, servis sepatu dan kegiatan sejenisnya.

Wallahu a’lam bis-Shawab

Source Article from http://ramadan.detik.com/read/2013/08/02/143757/2322795/1524/bagaimana-mendirikan-bmt?992204cbr

No related posts.

Comments are closed.