Mahmud Dapat Modal Rp 500 Juta dari Tanaman Mikro Ganggang

Bisnis Tiket Pesawat Mahmud Dapat Modal Rp 500 Juta dari Tanaman Mikro Ganggang
pulsagram Mahmud Dapat Modal Rp 500 Juta dari Tanaman Mikro Ganggang

Jumat, 15 November 2013 15:54 WIBMahmud Dapat Modal Rp 500 Juta dari Tanaman Mikro Ganggang

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-  Mahmud Lutfi Huzain dengan proposal berjudul Spirulina (sejenis tumbuhan mikro ganggang) sebagai Suplemen Makanan menjadi pemenang dalam Diplomat Success Challenge 2013, ajang bisnis kreatif dan inovatif ini.


Sebagai pemenang utama, challenger dari Sukoharjo, Jawa Tengah  berhak atas  modal usaha senilai Rp 500 juta untuk menciptakan peluang usaha.


Inisiatif Mahmud ini didasarkan fakta bahwa kebutuhan masyarakat akan makanan yang benar-benar menyehatkan membuatnya berkeinginan untuk mengembangkan usaha produksi spirulina yang telah dirintisnya.


Spirulina merupakan sumber nutrisi 100 persen alami dan makanan yang bersifat alkali. Agar tubuh tetap sehat, sangat penting bagi kita untuk mengkonsumsi makanan hari-hari dengan proporsi seimbang antara 80 persen makanan ber-alkali dan 20 persen makanan bersifat asam.


Untuk runner up kedua diraih Mansur, dengan proposal berjudul Peningkatan Kandungan Lokal pada Industri Alat Berat dan Priyandaru Agung Eko Trapsilo, dengan proposal berjudul Pelet Aquative. Kedua runner up berhak mendapatkan modal usaha masing-masing senilai Rp 200.000.000.


Tiga grand finalis lainnya, Roni asal Padang dengan proposal bisnia Peningkatan Nilai Tambah Gambier Hitam Sebagai Komoditas Ekspor, Reny Sukmasari dengan judul Cokelat Joyo, Oleh-oleh dari Jogja dan Diah Lestari dengan konsep bisnis Savour French Crepes berhak mendapatkan modal usaha masing-masing senilai Rp 20 juta. (Eko Sutriyanto)


View the original article here

Besarnya Potensi Usaha Mikro dan Kecil – Metro TV News

Bisnis Tiket Pesawat Besarnya Potensi Usaha Mikro dan Kecil   Metro TV News
pulsagram Besarnya Potensi Usaha Mikro dan Kecil   Metro TV News

Metro View | Senin, 22 Oktober 2012 20:01 WIB
Suryo
Suryopratomo

KITA kadang menyepelekan sesuatu yang kecil. Namun dalam ekonomi yang kecil itu seringkali justru menjadi kekuatan. Usaha mikro dan kecil bisa menjadi penyelamat ekonomi dari sebuah bangsa.

Itulah yang kita alami tahun 1998 lalu. Ketika krisis keuangan melanda Asia Timur, perusahaan-perusahaan besar kita bertumbangan. Perekonomian kita pernah mengalami kontraksi yang begitu dalam. Beruntunglah ada usaha mikro dan kecil yang kemudian menjadi penyelamat mereka yang terkena pemutusan hubungan kerja.

Pemerintah ketika itu tidak punya pilihan lain kecuali mendorong masyarakat untuk mencari pekerjaan untuk dirinya sendiri. Meski harus melanggar peraturan dengan pengizinan kawasan pemukiman menjadi tempat bisnis, namun kita melihat perlahan-lahan masyarakat bisa mempunyai kegiatan yang produktif.

Hanya setahun saja perekonomian kita pernah tumbuh minus 14 persen, namun kemudian kembali ke titik nol. Setelah itu meski harus merambah pelan-pelan, kita mampu kembali membangun perekonomian kita dan dalam tiga tahun terakhir bisa tumbuh di atas enam persen.

Sekarang kita melihat bagaimana krisis sedang dihadapi negara-negara Eropa dan juga Amerika Serikat. Setelah krisis global tahun 2008, mereka berjuang keras untuk bisa bangkit kembali. Kita melihat bagaimana perusahaan-perusahaan besar di dua kawasan itu kemudian bertumbangan.

Akibatnya, angka pengangguran mencapai titik yang paling mengkhawatirkan. Di Spanyol dan Yunani misalnya, angka pengangguran tercatat sebesar 25 persen. Artinya dari empat angka kerja yang ada di negara itu, ada satu orang yang menganggur.

Dalam kondisi krisis, kita tidak bisa berharap perusahaan besar untuk bisa cepat bangkit. Masalahnya, dibutuhkan modal kerja yang tidak sedikit. Ketika bank-bank sedang dihadapkan kepada keterbatasan likuiditas, sulit bagi mereka untuk memberikan kredit dalam jumlah besar.

Untuk menghindar dari risiko yang membuat bank kolaps, akhirnya bank-bank lebih suka melirik usaha mikro dan kecil. Meski lebih melelahkan dan membutuhkan upaya yang lebih besar, namun risiko yang harus dihadapi lebih kecil.

Tanpa disadari penyaluran kredit untuk usaha mikro dan kecil, ternyata memberikan keuntungan yang tidak kecil. Bahkan secara tidak langsung, penguatan usaha mikro dan kecil memberikan kontribusi yang positif bagi pembangunan ekonomi negara.

Pengalaman itulah yang setidaknya kita rasakan selama 13 tahun terakhir ini. Sekarang kita melihat hasil nyata dari kontribusi usaha mikro dan kecil kepada perekonomian nasional. Bahkan bank-bank mulai menjadikan usaha mikro, kecil, dan menengah sebagai pasar mereka.

Bukan hanya Bank Rakyat Indonesia yang masuk ke segmen UMKM, tetapi juga kita lihat Bank Mandiri dan Bank Negara Indonesia tidak mau melepaskan peluang itu. Bahkan bank swasta seperti Bank Umum Koperasi Indonesia serta bank-bank asing seperti Bank Danamon dan Bank Tabungan Pensiunan Nasional ikut menggarap segmen UMKM.

Kalau ahli ekonomi F. Schumacher sejak lama menyebutkan, “Small is beautiful”, sekarang ini pesan itu dirasakan. Bahkan kita tidak bisa menyepelekan UMKM karena mereka juga memiliki kontribusi yang luar biasa terhadap perekonomian sebuah negara.

Itulah yang sejak lama dikembangkan oleh Taiwan, di mana pilar kekuatan ekonomi mereka terletak pada UMKM. Sebenarnya Jepang juga bertumpu kepada UMKM, hanya saja mereka mampu menyinergikan dengan perusahaan besar, sehingga membuat sebuah rangkaian yang kuat.

Konferensi internasional tentang keuangan mikro yang dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Yogyakarta harus ditujukan ke arah sana. Bagaimana kita mengaitkan kekuatan pada usaha mikro dan kecil yang ada sekarang ini dengan usaha menengah dan juga besar. Kalau kita bisa melakukan itu, maka kita akan bisa membangun kekuatan ekonomi yang luar biasa.

Kita mempunyai potensi untuk itu karena kita memiliki usaha mikro dan kecil yang jumlahnya mencapai 50 juta. Kita juga memiliki bank yang lebih satu abad bergerak dalam UMKM yaitu BRI. Sekarang ini tugas kita tinggal mengembangkannya lagi.

Sepanjang kita mampu membangun kepercayaan di antara pelaku usaha, kita tidak perlu khawatir untuk gagal. Apalagi jika di antara mereka saling memberi masukan dan koreksi, akan bisa dihasilkan kegiatan ekonomi yang bisa saling menguntungkan bagi semua pihak.

©MetroTVNews.com

View the original article here